Senin, 18 Agustus 2014

Di Bawah Jembatan Lempuyangan

DI BAWAH JEMBATAN LEMPUYANGAN
Aditya Winantaka

Sore itu, di bawah Jembatan Lempuyangan.

Aku duduk di atas jok motor. Di depanku ada beberapa lajur rel, yang arahnya bisa menuju ke Barat atau ke Timur. Di sebelahku, sepasang kekasih bercanda sambil makan cemilan. Di sebelahku yang lain, seorang Ibu membujuk anaknya untuk memakan sesuap nasi di dalam sendok yang dia pegang. Di sebelahku yang lain lagi, segerombolan anak SMA sedang mengobrol seru membahas pertandingan sepak bola tadi malam. Membuat suasana di situ menjadi ramai.

Aku tidak mau kalah. Aku bercerita kegiatanku hari ini. Aku bercerita juga tentang Biyan dan Danen, keponakanku yang lucu. Aku bercerita bahwa ladang jerawatku sukses berbuah. Aku bercerita kejadian tadi malam karena aku lupa mematikan keran kamar mandi, air membludak dan aku dimarahin Bapak. Aku bercerita tentang acara TV tadi malam sambil tertawa. Lucu, kemudian semuanya menjadi hangat dan indah. Aku lega aku bisa berbagi kisah. Sejam dua jam aku asyik mengobrol.  Aku kemudian ingin tahu kepada siapa sedaritadi aku berbagi. Aku melihat ke belakang lewat spion motorku, tidak ada siapa-siapa di spion motorku. Ternyata aku baru sadar aku hanya sendirian di situ. Iya sendiri.

*****

Di Dalam Gerbong Kereta


DI DALAM GERBONG KERETA
Aditya Winantaka

Laki-laki itu berjalan dengan tergesa-gesa. Dengan membawa tas punggung dan satu tas jinjing dia setengah berlari melewati kerumunan orang dengan tergesa-gesa. Dia tidak mempedulikan orang-orang di dekatnya yang menatap dia dengan anehnya. Tujuannya hanya satu, tidak ketinggalan kereta sore itu.

Setelah sampai di peron, dia menghampiri petugas di stasiun.

“Pak, kereta api Senja Utama Jogja untuk tujuan Jakarta sudah datang?”
“Sudah pak, itu dia keretanya.” Sambil melihat secarik tiket yang diperlihatkan lelaki itu.

Laki-laki itu pun bergegas masuk ke gerbong kereta yang ditunjukkan petugas tersebut. Sampai di dalam, dia celingukan mencari nomor bangkunya. Di belakang terlihat bangku yang kosong, dia pun berjalan menuju bangku tersebut.

“Maaf Mas, saya baru pertama kali naik kereta, saya mau tanya apa benar bangku ini nomor 1B?”
“Iya mas, Masnya nomor 1B ya? Silahkan duduk Mas.”
“Iya Mas, terima kasih ya, permisi.”

Setelah menaruh tas yang dia bawa di bagasi atas, dia pun duduk dan kemudian terlihat mencoba mengatur nafasnya yang masih ngos-ngosan.

Laki-laki yang baru pertama naik kereta itu, Aku.

Ini adalah untuk pertama kalinya aku naik kereta api sendirian dengan jarak yang cukup jauh, Jogja-Jakarta. Dengan bermodal nekat hanya berupa keyakinan dan uang tabungan. Aku benar-benar menjadi orang yang berbeda saat ini.

Sambil melihat pemandangan yang gelap di luar sana, aku melamun.

“Ngapain sih kamu ke Jakarta? Kok repot amat jauh ke sana, mending di Jogja saja lebih nyaman to.”

Suara itu menggema di telingaku, seolah menguji niatku untuk berangkat ke Jakarta. Berharap agar aku sadar dan memutuskan keluar meloncat dari kereta dan berlari pulang ke rumah. Sebenarnya jauh di dalam sana, aku ingin tapi aku tidak bisa. Aku hanya diam, sambil terus melihat jendela kereta api.

Kereta berjalan begitu cepat, pemandangan gelap yang terlihat di jendela semakin samar dan semakin samar. Di dalam gelapnya pemandangan di luar, di kereta yang melaju, pelan-pelan bayangan hidup yang pernah aku alami menyeruak kembali. Tentang aku dan dia yang sedang melangkah menjadi kita.  Mengingatkan aku kenapa aku harus ke Jakarta hari ini juga.

*****


Senin, 04 Agustus 2014

Hello Tickles! Halo Inggris! (Review Tickles Cafe & Resto)


Mumpung kemarin libur panjang aku dan Lia memutuskan menyempatkan diri untuk mampir ke sebuah tempat di  kota Yogyakarta, namanya Tickles Cafe & Resto, alamat tepatnya di Jalan Kenari no 4, Demangan, Sleman. Dulu, pertama aku datang ke tempat ini saat malam minggu bersama teman-teman, kesan pertama benar-benar menggoda. Makanya ketika Lia pulang ke Jogja, sesudah dari jalan-jalan kami memutuskan untuk mampir ke sana. Tickles merupakan cafe yang sebenarnya baru hadir beberapa bulan di Jogjakarta, grand openingnya sendiri baru pada bulan Februari 2014 lalu. Walaupun begitu, dengan umur yang masih muda Tickles mampu menyedot perhatian para penikmat kuliner yang hobi nongkrong untuk datang ke sana. Konsepnya berbeda dengan cafe kebanyakan yang sudah ada di Jogja, nuansa Inggris begitu kental saat kita berada di sana. Ruangannya terbagi antara smooking room dan no smooking room. Karena aku sendiri adalah perokok aktif, maka ketika datang ke Tickles aku selalu memilih masuk ke smooking room, sehingga foto-foto yang aku pajang di blog ini kebanyakan merupakan foto di smooking roomnya. Tapi jangan salah untuk ruangan di no smooking roomnya tidak kalah keren desainnya.







Menu di Tickles ada bermacam-macam, seperti Pizza, Pasta, Steak, dan lain-lain dengan kisaran harga yang pantas. Hal ini membuat penikmat kuliner yang datang dapat termanjakan lidahnya dengan menikmati hidangan yang ada. Aku dan Lia datang ke sana memesan Chicken Marryland Steak (35K) dan Chicken Cordon Bleu (35K) untuk makanannya, sedangkan untuk minumannya kami memesan Mango Tango (15K) dan Greend Islands (17K). Di dalam daftar menu  di tiap jenis makanan dan minumannya sendiri  ada penjelasan terdiri/terbuat dari apa makanan/minumannya, sehingga walaupun dengan nama-nama yang asing bagi orang Indonesia kita mempunyai gambaran bakal seperti apa makanannya. Berikut tampilannya,




Menu makanan dan minuman di Tickles Cafe & Resto


Greend Islands, minuman ini segar plus ada buah di dalamnya, recommended menurutku.

Mango Tango, di dalamnya ada mangga, tomat, dan lecinya. 

Chicken Cordon Bleu, dagingnya lembut dengan taburan saos di atasnya. Selain itu di dalamnya ada smooked beefnya, ini enak.

Chicken Marryland Steak, daging dengan sensasi crispy ini juga enak.

Kalau menurutku secara tema, dengan menu dan desain tempatnya, Tickles berhasil membawa kita serasa di Eropa, Inggris tepatnya. Jika kamu ingin pergi ke Inggris tapi belum kesampaian, Tickles bisa mengobati sedikit keinginan itu. Di sana kamu bisa nongkrong rame-rame bersama teman-teman atau mungkin berduaan sama pacar, karena tempatnya emang cozy dan mendukung sekali. Menurutku, kalau ingin rame-rame enaknya di smooking room sedangkan kalau mau berduaan enaknya di no smooking room. Atau kalau datang sendirian, daripada mati gaya, bisa berselancar ria karena tempat ini Free Wifi.
Dan kalau ke Tickles jangan lupa siapin kamera karena fasilitas di Tickles mendukung sekali buat berfoto selfie. Saranku datang saat akhir pekan, karena di sana ada live bandnya.  Oh ya, harga di atas belum termasuk  pajak 10% dan servis 5% lho. Walaupun begitu, tidak ada salahnya datang ke sana, karena menurutku tempat ini nyaman, menunya lumayan dan pelayanannya juga bagus.


Tickles Resto & Cafe
Jalan Kenari no 4, Demangan Baru, Yogyakarta
(0274) 587001

Selasa, 22 Juli 2014

Pemain Sepak Bola


PEMAIN SEPAK BOLA
Aditya Winantaka


Menit 90, memasuki masa injury time 2 menit.

Di dekatku ada satu dua orang bek lawan yang menghalangi lajuku. Dua-duanya bertubuh besar dan tegap. Tak hilang akal, aku pun meliuk-liuk menggiring bola berusaha melewati mereka. Usahaku berhasil, bek yang satu telah tertipu oleh gerakanku, bek yang satunya sepertinya sudah lelah karena ketika aku tantang adu sprint dia kalah tertinggal jauh di belakangku. Di depanku hanya tinggal seorang penjaga gawang, dia bersiap-siap menyambutku.

Aku merasa menit ini sangat menegangkan.

Aku bisa melihat sekilas di bangku cadangan, pelatih dan teman-temanku begitu tegang melihatku. Begitu juga di bangku penonton, penonton terdiam menatapku, suasananya senyap menunggu apa yang akan terjadi kemudian. Aku pun ancang-ancang menendang bola yang sedari tadi aku giring.

"GOOOOOOLL...!!!" 

Penonton di stadion bergemuruh. Sorak sorai pelatih dan teman-temanku menyambut ekspresi kegiranganku setelah mencetak gol. Semua berpesta.

Kecuali lawanku, mereka menangis.

Negaraku untuk pertama kalinya menjuarai Piala Dunia. Dan itu karena golku di menit akhir.

*****

Aku bukanlah aku yang dulu lagi, terutama sejak malam itu. Aku adalah pemain sepakbola ternama. Beberapa kali aku menyabet gelar pemain terbaik di dunia, mengungguli Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo. Mereka tidak ada apa-apanya dibandingkan aku. Jauh.

Sekarang, tidak ada yang menyenangkan selain hidupku. Ketampanan, tubuh atletis, kharisma dan cerita tentangku membuat semua orang memujaku. Wanita, uang, mobil, rumah,  dan fasilitas kemudahan lainnya yang aku miliki membuatku menjadi orang yang paling bahagia di muka bumi ini. Aku tenggelam dalam kesenangan ini. Ini semua membuat perutku makin buncit, karena begitu banyak makanan minuman yang aku lahap tanpa aku saring dan pilah-pilah.
Ini semua karena gol itu. Ini semua karena permainan bolaku. Aku mengagumi diriku sendiri. Sambil menutup mata, aku membayangkan masa-masa indah yang telah aku lalui.

*****

Setelahnya,
Aku berusaha membuka mata lagi, tapi tidak bisa, semua gelap dan benar-benar gelap. Badanku berasa kaku. Tangan dan kakiku tidak bisa digerakkan. Aku bingung. Aku takut. Semua anggota tubuhku berusaha aku gerakkan tapi tidak bisa. Aku ingin teriak meminta tolong tapi ada sesuatu yang menyumpal di mulutku sehingga membuatku tidak bisa bersuara. Aku pun tidak mendengar satu suarapun di dekatku, sunyi. Aku menangis tapi anehnya tidak ada berasa butiran air mata menetes yang keluar dari mataku. 
Kemudian aku tersadar bahwa aku pun tidak perlu bernafas untuk merasa hidup. 
Semuanya menjadi aneh sekarang.
Hidup di dalam kegelapan, sendiri, dingin dan sunyi.
Tidak ada bola, wanita, fans dan uang.
Semuanya membosankan.

Pada detik ini, aku sangat berharap bahwa hidupku yang menyenangkan itu kembali lagi dan menjadi kekal. 

Tapi secercah cahaya datang, dan berbicara,
"Kamu hanya manusia, hidupmu tidak kekal, nikmati saja apa yang telah kamu tuai selama ini."

Aku kaget. Aku sadar.  Aku pun menangis kembali, tanpa air mata.

*****