Kamis, 11 September 2014

Senja Celaka




SENJA CELAKA
Aditya Winantaka

Palang perlintasan ditutup, kendaraan yang akan lewat pun berhenti, mengurungkan perjalanannya agar tidak terlindas si empunya lintasan. Kemudian tidak berapa lama, kereta terlihat melaju cepat dan menderu. Aku menggambarkannya seperti laju kuda yang sedang mengamuk. Tidak peduli sekitarnya, melesat cepat melewatiku yang sedang berdiri termangu di bawah Jembatan Lempuyangan. 

Aku berdiri di tempat ini sekitar empat puluh lima menit lebih sepuluh detik yang lalu. Di dekatku ada anak muda mudi duduk berjajar di dekat pagar sambil bercengkerama. Di sebelahnya terlihat seorang Ibu menyuapi anaknya sambil mengarahkan pandangan anaknya ke kereta yang baru saja lewat. Sedangkan orang-orang yang lain sibuk menikmati jajanan yang melimpah di tempat ini. Sebenarnya tempat ini bukanlah tempat yang istimewa. Tidak ada bianglala, rumah hantu, tong setan, kereta mini, dan permainan lainnya. Hanya segunduk lahan beralaskan ‘konblok’ di tepi jalan bawah Jembatan Lempuyangan yang di sampingnya terdapat rel kereta api. Tapi anehnya, tempat ini selalu ramai pada sore hari. Ramai dengan kesibukan masing-masing. Entah apa tujuan mereka semua datang ke sini, wisata gratis menonton kereta, mungkin. Sedangkan aku, tujuanku hanya satu, melepas semua beban yang ada pada diriku. 

*****

“Kamu edan! Bagaimana ini bisa terjadi! Bagaimana nanti kita bisa membayar gaji semua karyawan kalau kamu bertingkah bodoh seperti ini!”

Aku hanya  terdiam mendengarkan umpatan dan makian dari orang  tua yang biasa aku sebut Pak Direktur. Sekitar sejam lebih Pak Direktur menyebutkan nama-nama hewan dari kebun binatang di depanku. Aku paham dia senang dengan hewan, tapi aku tidak menduga dia sangat hapal sampai ke sifat-sifat hewan pun dia sebutkan secara rinci.

Setelah melewati bantingan buku dan gebrakan meja, aku disuruh pergi keluar dari ruangan itu dan tidak boleh menginjakkan kaki di tempat itu selamanya. Tak lupa juga mantan direkturku tersebut memberi ancaman kepadaku akan dilaporkan ke polisi apabila semua masalah ini tidak segera selesai. Dengan lemas dan terdiam aku pun keluar dari ruangan mantan direkturku menuju ruangan sebelahnya, ruanganku yang sebentar lagi bisa disebut sebagai bekas ruanganku. Setelah merapikan meja kerja dan mengambil barang-barang, aku berjalan keluar dari ruangan sambil melihat isi pesan di telepon genggamku, istriku titip beli susu untuk anak bayiku, segera. Aku pun bergegas pergi. Aku lebih takut istriku daripada murka mantan direkturku barusan.

Semenjak mobilku ditarik perusahaan leasing, aku kemana-mana jalan kaki atau naik bus atau mungkin ojek. Tapi, setelah melihat isi dompetku yang hanya cukup untuk beli susu, hari ini aku memutuskan berjalan kaki. Baru beberapa meter dari bekas kantorku, telepon genggamku berdering.

“Selamat siang Pak Bawono.” Begitu suara yang ada di ujung telepon ketika aku mengangkatnya.

Iya, selamat siang, Pak.

“Mohon maaf pak, sekedar mengingatkan tagihan angsuran kredit Bapak sudah melewati jatuh tempo. Hari ini bisa kan pak dibayar?”

I-iya pak sedang saya usahakan.

Kepalaku pening. Seratus juta lima ratus lima puluh ribu rupiah.

***** 

Dan di sinilah sekarang aku berada, tidak tahu mau kemana lagi, di bawah Jembatan Lempuyangan. Sendirian. Aku belum bisa membayar hutang. Belum bisa mengganti uang perusahaan. Bahkan susu pun belum terbeli. Belum 'tetek bengek' lainnya. 

Tak terasa sudah satu jam tiga puluh lima menit lebih sepuluh detik aku berdiri termangu tidak berubah di sini. Hari mulai gelap, orang-orang yang tadi ramai sudah banyak yang pergi. Tempat yang tadinya jadi wisata dadakan mulai rada sepi. Tapi aku masih belum menemukan solusi dari rentetan kejadian yang menimpaku. Telepon genggam aku matikan sedari tadi. Aku tidak tahan dengan jeritan telepon dari istriku, rentenir, debt collect, dan nomor-nomor tidak dikenal yang terus merongrong hidupku. 

Andai perusahaan tidak di ambang kebangkrutan, andai aku tidak menggelontorkan semua uang pribadi dan perusahaan buat investasi menggiurkan tapi bodong itu.

Lepas dari semua itu, sebenarnya niatku baik hanya ingin membantu perusahaan lepas dari kesulitan, menurutku. Kenyataannya sekarang, aku malah ditendang. 
Ah andai penyesalan tidak datang belakangan.

Bagaimana caranya mengatasi ini semua. Bagaimana aku bisa lepas dari jeratan masalah-masalah yang datang.

Tiba-tiba terlihat cahaya lampu kereta datang dibarengi dengan terdengar suara ‘klaksonnya’. Pintu perlintasan kembali ditutup. Kendaraan yang mau lewat pun berhenti. Sudah kesekian kali peristiwa seperti itu berulang. Tapi entah kenapa, kali ini aku ingin menyambut cahaya itu. Cahaya terang menyilaukan yang aku yakin saat itu menjadi satu-satunya cara mengatasi masalah ini semua. Aku melompati pagar pembatas dan berlari menyambut kedatangan cahaya itu. Aku tersenyum menyambutnya. Di luar sana terdengar  pekikan dan jeritan orang-orang yang melihat tingkahku. Di detik ini, ketika aku mendengar teriakan mereka, membuatku merasakan kembali yang namanya kepedulian. 
Tapi sudah terlambat.

Aku bebas.
 
 'Klakson' kereta kalau didengar dari dekat, suaranya sungguh keras ya. 


*****

Aku membuka mata. Semuanya putih. Kemudian terdengar suara tak berwujud.

“Anakku, tibalah waktumu. Aku akan menimbang amal perbuatanmu selama di dunia untuk kamu pertanggung jawabkan sekarang.”

Aku tertegun.

Sial, aku lupa aku masih banyak dosa.

*****

Selasa, 02 September 2014

Di Sawah

DI SAWAH
Aditya Winantaka

Siang ini, aku memandang sepetak tanah di depanku.
Petak yang selama ini menjadi tempat aku berdiri. Di sanalah tanah nan subur berada. Ketika aku melempar kayu, tumbuhlah tanaman di sana.

Tapi hari ini juga aku harus menjualnya kepada bapak botak berdasi berperut buncit yang tersenyum licik di belakangku. Aku terpaksa. Hutangku semakin menumpuk. Semuanya mahal sekarang.

Aku yang menghasilkan bahan makanan tapi aku tak mampu makan tiga kali sehari.

Untuk saat terakhir, aku menatap lagi tanah di depanku. Tanah yang di semua sisinya telah bertetangga dengan bangunan sangat tinggi. Saking tingginya, sampai aku tidak bisa melihat atapnya.

Maafkan aku Tuhan karena aku telah menjual tanah terakhir di muka bumi ini.
Maafkan aku Bapak Ibu yang telah mewariskan tanah ini padaku .
Maafkan aku cucu-cucuku, karena ketika kalian tumbuh nanti tidak akan mengenal yang namanya sawah.

Sekarang, tidak ada lagi yang namanya Pak Tani.

Rabu, 20 Agustus 2014

Rokok

ROKOK
Aditya Winantaka


Kamu itu menarik. Tubuhmu tidak semok atau montok. Lurus, ramping tapi padat. Ada rasa gurih atau manis saat dihisap tergantung siapa itu kamu. Saat aku menghisapmu, aku seolah-olah  memperoleh kekuatan baru dan saat aku menghembuskan asap yang kamu timbulkan, seperti semua masalah kemudian ikut keluar bebarengan .

Banyak yang bilang kamu berbahaya. Katanya, kamu mengakibatkan penyakit di paru-paru, gangguan janin, gangguan pernafasan dan lain sebagainya. 

Tapi bagiku, kamu itu Setia. Saat aku suka maupun duka, kamu adalah teman sejati yang selalu ada bagiku.  Lalu kemana adanya orang-orang yang mengatai kamu itu bahaya saat aku sedang butuh mereka? Enggak ada.

Ah, tapi bagaimana jika perkataan mereka benar kalau kamu sebenarnya adalah sumber penyakit?

Kalau aku meninggalkanmu lalu kepada siapa aku harus berbagi?

Selasa, 19 Agustus 2014

Di Taman Bunga

DI TAMAN BUNGA
Aditya Winantaka


Tadi pagi aku hampir terbunuh. Ketika aku sedang berjalan, seorang anak kecil yang membawa bunga melihatku kemudian berlari dan berteriak ketakutan. Tak berapa lama seorang bapak yang berbadan tegap datang sambil membawa kayu bersama anak itu. Beberapa kali kayu itu dipukulkan ke arahku. Tapi Tuhan masih baik padaku. Tidak secuilpun tubuhku hilang atau terluka. Dia pukul sekali, kayu yang yang dipukulkan malah mengenai ranting pohon yang berada di atasku. Masih belum puas dia pukul kembali, tapi aku berhasil menyelinap masuk ke semak-semak sebelum kayu itu mengenai tubuhku.
Kemarin, wanita cantik yang sedang menikmati keindahan bunga tidak sengaja melihatku. Aku tersenyum kepadanya. Tapi apa yang dia lakukan kemudian di luar perkiraanku. Dia menjerit dan mengibaskan buku yang dia bawa ke arahku. Mengusirku, sepertinya.
Dua hari yang lalu, ketika aku sedang menyeberang. Segerombolan anak muda mudi berlari dan hampir melindasku dengan tanpa peduli. Beruntung, Tuhan lagi-lagi masih baik padaku. Aku masih selamat dari ketidak pedulian mereka.
Aku sedih tidak ada yang peduli kepadaku. Aku marah karena mereka semua berkata jijik padaku. Aku kecewa karena ketika aku di posisi sekarang mereka malah mengusir dan meninggalkanku. Aku menangis dan kemudian bersembunyi di balik daun, menghindari mereka. Dalam kesendirianku, Tuhan yang baik menghembuskan angin kepadaku. Seluruh tubuhku kaku dan terbungkus oleh hembusan-Nya. Dan akupun tertidur.

*****

Entah hari apa sekarang.
Aku terbangun dari tidur panjangku. Sinar matahari pagi ini begitu menyilaukan. Dia menyambutku sambil tersenyum.
"Hai, Selamat Pagi."
Entah kenapa aku merasa hari ini  begitu bersemangat. Aku merasa diriku berbeda dari aku yang dulu. Akupun melangkah keluar dari peraduanku dan kemudian mengelilingi taman bunga yang telah lama aku tak bermain di sana. 
Di bawahku ada seorang anak dan seorang Bapak yang dulu mau membunuhku. Mereka tersenyum dan melambaikan tangan padaku. Aku pun membalas senyuman mereka lalu pergi. Di tempat lain aku bertemu wanita cantik yang membawa buku, dia tersenyum kepadaku dan terlihat begitu kagum melihatku. Untuk membalas kekagumannya, aku pun terbang meliuk-liuk menggoda di dekat dia. Dia tertawa. Aku tertawa. Tak lama kemudian segerombolan anak muda mudi melihatku juga, mereka pun bergabung dan kami berpesta. Bahagia sekali hari itu.
Tuhan memang baik. Tadinya aku ulat berbulu yang buruk rupa kemudian diajarkan sabar dalam bentuk kepompong dan sekarang aku adalah kupu-kupu yang rupawan. Yang tidak mungkin orang akan tidak peduli kepadaku, berkata jijik atau berniat membunuhku.

*****